Tebusan

Bab 3. Diskusi

            10:25 am

            Di sinilah aku sekarang. Ruang santai kata Dokter Faisal ketika mempersilakan aku duduk di sofa berwarna kelabu di tengah ruangan. Aku memilih sofa berukuran dua orang membelakangi jendela. Ruang yang luas dan nyaman, sangat berbeda dengan ruang sebelumnya yang penuh buku dan dokumen serta peralatan yang lain. Tembok dicat sewarna sofa dengan banyak nature photographs terbingkai kayu kelas satu. Indah dan unik.

            Tidak banyak perkakas hanya satu set sofa dengan meja ukir kecil dari kayu jati di tengah lingkaran sofa, sebuah lemari abu-abu terletak di sebelah kiri pintu dan satu set komputer lengkap dengan sepasang speaker aktive polytron di samping monitor. Di atas meja komputer ada beberapa keping CD dan buku tebal. Hanya itu. Oh, ada satu lagi hal kecil yang penting, satu pot kecil dengan tanaman hias di atas meja sofa. Penyempurna ruangan sekaligus peneduh mata.

            Aku duduk dengan tenang, sangat tenang. Tidak lagi peduli titik-titik hujan yang jatuh di balik jendela, juga bunyi guntur halus yang sesekali terdengar.

            Dokter Faisal meletakkan portofolio di atas meja lalu menyalakan komputer. Beliau juga tampak tenang dan berwibawa.

            “Mengapa tidak menggunakan laptop saja, Dok?” aku mencoba memecahkan kesunyian.

            “Aku suka monitor besar dengan CPU yang perkasa dan bunyi-bunyi  keyboard yang merdu. Ah, dan juga CD ini, terlihat klasik.

            “Bukan, itu kuno.” Aku membatin. Sang dokter tersenyum memamerkan CD di tangannya.

            Mengabaikan dokter Faisal, aku mengangkat pot kecil dari atas meja dan membaui aroma tanaman yang harum. Aku memetik setangkai daun dan mengembalikan ke atas meja. Alunan biola atau apalah namanya aku tidak begitu mengerti tentang instrumen musik, merdu menggema dari speaker. Aku kenal iramanya, My Heart Will Go On yang dinyanyikan Celine Dion. Aku berdengung mengikuti iramanya sambil membetulkan blazer cokelat yang kukenakan. Sang dokter mendudukkan dirinya di hadapanku, detak jantungku mulai meningkat. Gugup. Aku harus menghela napas berkali-kali untuk meredakan konsentrasi adrenalin.

            “Boleh kita mulai, Nona Resty?” tanya dokter Faisal, mengembalikan pikiranku yang mulai berjalan liar.

            “Aku dalam kendalimu, Dok. Terserah Dokter kapan kita mulai.” Beliau membuka portofolio, mungkin daftar pertanyaan atau lembaran formulir yang telah kuisi.

            “Baik. Nama Anda Theresia Restyanti Paul, umur dua puluh tujuh tahun dengan tinggi 164 sentimeter dan berat badan lima puluh dua gram.”

            “Dokter?”

            “Oh, maaf. Maksud saya kilogram.” Ia tersenyum geli, aku ikut tersenyum. “Saya hanya menguji konsentrasi pikiran Anda. Baik, Anda bekerja sebagai bendahara di butik keluarga dan belum menikah.”

            “Yap.”

            “Ciri-ciri fisik, rambut panjang bergelombang dan … ”

            “Keriting tepatnya, Dok.”

            “Ya, terserah Anda. Bergelombang dan cokelat, mata Indah, hidung mancung dengan garis wajah bukan oval juga bukan tirus, antara keduanya seperti wanita India.” Aku cukup risi dinilai sedemikian oleh seorang lelaki bertampang serius seperti ini. “Kulit Anda tidak hitam juga bukan putih, sawo matang? Lebih seperti kulit artis Titi Rajo Bintang. Dan pada umumnya Anda adalah wanita yang sangat menarik.” Beliau membuat gerak tangan seperti akan memotret sambil tersenyum menggoda. Aku tidak lagi merasa risi atau kikuk, justru merasa lucu dengan perbuatannya yang kekanak-kanakan. Ia memang pandai menenangkan suasana hatiku yang mudah berubah.

            “Terima kasih, Dok. Anda pasti penggemarnya Titi Rajo Bintang.”

            “Yeah, dia cantik.” Ia mendelik. “Baik, mari kita beralih pada hal-hal yang Anda sukai. Hobi Anda, suka membaca dan menonton dan juga Badminton?” ia menatap seakan tak percaya. “Seberapa sering Anda bermain Badminton?”

            “Seminggu sekali.”

Ia mengangguk. “Bacaan apa yang biasa Anda baca?”

“Majalah, baik majalah anak, remaja atau wanita, novel, bacaan motivasi, koran, ya apa pun yang bagus untuk dibaca, Dok. Terlebih artikel-artikel menarik dari situs-situs tertentu.”

“Novel seperti apa?”

“Novel Indonesia itu … hm … karya Andrea Hirata Tetralogi Laskar Pelangi aku sangat suka tokoh Lintang dan Arai. Ada lagi karya Tere Liye seperti Bumi dan Bulan, seri lainnya belum sempat baca dan masih banyak lagi tapi aku lupa. Ada juga novel terjemahan seperti Harry Potter semua seri karya seorang perempuan cerdas J.K Rowling. Juga karya Agatha Christie walaupun harus membelinya di tokoh buku loakan. Aku suka cerita detektif. Juga seri Sherlock Holmes walau terkadang aku gagal paham. Sekali pun aku kurang suka cerita vampir tetapi aku membaca karya Stephanie Meyer. Dan masih banyak novel lainnya, Dok. Oh, satu lagi. Di zaman yang sudah modern ini aku juga suka membaca di wattpad.”

“Anda suka cerita berbau kekerasan.”

“Ini pertanyaan atau pernyataan, Dok?”

“Maaf. maksudku, apakah Anda suka cerita berbau kekerasan?”

“Tidak. Aku suka alur cerita suatu novel yang sulit ditebak walaupun terkandung kekerasan atau pembunuhan. Tetapi aku tidak tertarik pada titik itu, aku lebih tertarik untuk menebak penyelesain masalah dari konflik yang dibuat penulis.”

“Baik. Apakah Anda suka cerita yang berbau horor? Hal-hal gaib seperti hantu, pocong dan teman-temannya.”

“Tidak! Aku sama sekali tidak tertarik dan lebih terkesan membenci hal itu. Hanya hal-hal berbau sihir itu yang menyenangkan sekaligus menegangkan untuk dibaca.”

Dahi lelaki yang tenang itu mengerut. Sejak awal diskusi, sebutan sang dokter, wajahnya cukup tenang tetapi sekarang mulai berubah.

“Apakah bahan bacaanku ini berpengaruh terhadap mentalku, Dok?” entah mengapa hal itu tiba-tiba terpikirkan olehku. Dokter Faisal menggeleng tidak pasti.

“Saya belum bisa mengambil kesimpulan demikian cepat, Nona Resty.” Ia tersenyum. Senyum yang misterius.

“Baik. Beralih pada menonton. Menonton konser, teater, talk show, film, video musik, atau menonton apa, Nona Resty?”

“Menonton iklan. He-he-he, bercanda, Dok. Film. Anime jepang, kartun Disney, film aksi dan apa saja yang aku suka kecuali horor.”

“Anda tidak tertarik pada film horor? The Conjuring atau Pemuja Setan mungkin? Saya pernah menemani putri saya menonton film itu dan menurut saya, menarik.”

“Tetapi aku tidak tertarik sedikit pun, Dok. Seperti halnya membenci musim hujan, demikian juga benciku pada hal-hal demikian.”

“Anda membenci musim hujan? Mengapa?” sang dokter semakin bersemangat seirama dengan kerut dahinya yang semakin kentara.

“Gelap, dingin, petir, guntur, hujan dan banjir. Mereka menghadirkan mimpi buruk bagiku seperti akhir-akhir ini.”

Alunan suara sang diva telah menyanyikan lagu The Power of Love. Mendayu-dayu merehatkan sejenak pikiranku yang terus diisi dengan pertanyaan. Wajah dokter semakin kusut dan sulit dibaca. Aku membiarkan ia bermain dengan pikirannya sedang aku sendiri kembali dengan pikiran-pikiran buruk yang mulai menggedor. Alunan musik tak mampu menghalau pikiran itu meski sejenak cukup membantu.

Tok tok tok ….

Bunyi ketukan pintu menyelamatkan pikiran menakutkan yang sudah mulai berkeliaran. Seorang suster muncul membawa sebuah nampan berisi dua gelas teh yang sangat harum.

“Seharusnya sekarang hampir waktunya makan siang tetapi karena di luar masih hujan dan agak dingin jadi sebaiknya kita nikmati teh terlebih dahulu, Nona Resty. Silakan!”

“Terima kasih.” Aku menyesap seteguk. “Teh yang nikmat, Dok.”

“Terima kasih. Kembali lagi. Mengapa Anda membenci hal-hal demikian.”

“Menakutkan, Dok.” Aku meletakkan gelas tehku dan memperbaiki posisi duduk menyandar pada sofa. “Hal seperti itu sangat mengganggu. Aku akan mudah dihantui mimpi buruk setiap kali musim hujan.”

“Setiap kali musim hujan? Artinya setiap tahun?” sang dokter sangat terkejut dan meletakkan kembali gelas tehnya yang sudah di ujung bibir.

“Iya, Dok. Setiap tahun.” Aku membalas santai. Hal ini sudah menjadi rutinitasku setiap kali musim hujan. Bukan hal baru yang membuatku harus memasang wajah aneh dan memelas. Tidak ada yang menarik hanya ketakutan yang semakin besar seiring waktu dan keanehan yang menjadi pertanyaan tanpa jawaban  selama ini.

“Anda tahu alasannya?” masih dengan ekspresi penuh ingin tahu. Sepertinya ia telah menemukan sesuatu yang baru dan menarik.

“Kalau saja tahu alasannya pasti aku tidak akan menemui Dokter.”

“Baiklah, Nona Resty. Semakin menarik tetapi sekarang sudah pukul sebelas lewat lima puluh  menit. Sudah waktunya untuk menunaikan kewajibanku. Kita bisa membuat janji, kapan kita bisa bertemu lagi?”

“Kapan saja saat Dokter punya waktu untukku. Aku siap.”

“Baik. Tiga hari lagi, jam sembilan.” Dokter Faisal menutup portofolio di tangannya dan menyerumput sisa tehnya. “Silakan tehnya, Nona. Aku akan mempelajari hasil diskusi ini sebagai acuan untuk membuat daftar pertanyaan yang lebih kompleks. Setidaknya saya sudah mendapat apa yang saya butuhkan. Saya juga akan mencari kasus-kasus seperti milik Anda untuk refrensi, semoga bisa membantu.”

“Baik. Terima kasih, Dok. Sampai ketemu lagi.” Kami berjabatan tangan sebelum aku merapikan diri.

“Hati-hati, Nona Resty. Jangan lupa berdoa. Oh, maaf. Ada satu pertanyaan di luar konteks tetapi membuat saya penasaran. Mengapa Anda menemui saya seorang psikater dan bukan seorang psikolog terlebih dahulu?”

“Maaf, Dok. Aku tidak begitu mempermasalahkan perbedaan psikater dan psikolog. Aku membaca testimoni pelayanan Dokter di internet sangat baik dan merasa Anda adalah orang yang tepat untuk ditemui sehingga datang pada Anda, Dok.”

“Aku mengerti.”

Anggukan kepala dokter Faisal menjadi hal terakhir yang kulihat sebelum meninggalkan gedung pratiknya. Hujan masih lebat dan hari sangat kelabu. Aku tidak memikirkan apa pun, mengambil ponsel dan menghubungi Gabriel.

Bersambung …

Tebusan

Bab. 2. Seorang penolong

Semua kekacauan ini harus diakhiri. Belasan tahun menyembunyikannya dengan rasa takut yang sama setiap musim hujan harus dihentikan. Ini adalah rahasia terbesarku yang tidak sempurna kusembunyikan harus kubagikan kepada seseorang yang mengerti. Sudah lama aku merencanakannya dalam diam, takut pada sangkaan orang tentang kewarasanku. Tetapi semua itu tidak penting lagi. Jika tidak diakhiri sebelum habis musim ini, mungkin aku tak akan melihat kecerahan musim kemarau lagi.

“Namaku Theresia Restyanti Paul, dua puluh tujuh tahun. Anak sulung dari pasangan Paulus Dominikus Paul dann Katherine Paul. Punya dua adik, nomor dua seorang lelaki perkasa, Albert Alexander Paul dan bungsu kami seorang gadis cantik yang periang, Maria Claritas Paul. Ayahku dari Flores dan Ibu dari Yogyakarta. Well, bisa Anda lihat sendiri hasil kawin campur dari dua daerah ini, Dok.” Dengan malas aku menunjukkan diri dari atas ke bawah memperkenalkan hasil persilangan yang ada padaku.

“Aku ingin cerita banyak hal tetang keluargaku tetapi itu terkesan membosankan dan aku yakin dokter tidak akan suka mendengarnya. Jadi, langsung saja, Dok. Apakah aku butuh pengobatan atau terapi untuk menghilangkan mimpi-mimpi ini?”

Ya, setelah memikirkannya berulang kali dan dengan matang, pagi ini aku menemui psikater menceritakan segala mimpi-mimpi dan pengelihatan mengerikan yang menghantui. Berkali-kali menceritakannya pada mama responnya sama sekali tidak membantu. Justru membuat aku menyesal.

“Sudahlah, Res, jangan dipikirkan toh itu hanya mimpi. Mimpi itu bunga tidur. Kamu hanya kurang berdoa.” Begitulah jawabannya kalau sudah telanjur diceritakan sejak pertama kali mimpi-mimpi itu menerorku. Bahkan dengan kejadian semalam pun mama masih menganggap itu semua sebatas mimpi. Kalau saja itu semua sekadar mimpi, mungkin aku tidak begitu terpengaruh.

“Tidak perlu buru-buru, Nona Resty. Saya tidak mengatakan bahwa cerita tentang keluargamu itu membosankan. Itu hanya pikiranmu sendiri. Saya punya banyak waktu untuk mendengar bahkan sangat penasaran dengan keluargamu. Bagi saya, perpaduan dua daerah dengan budaya yang berbeda seperti kelurgamu itu sangat menarik.”

Dokter Faisal Ibrahim, seorang pria parubaya yang menarik. Gaya bicara diatur sedemikian rupa membuktikan pengalamannya bertahun-tahun menghadapi pasien seperti aku yang arah pikirannya ke mana-mana. Ia memintaku menarasikan tentang diriku dan keluarga setelah panjang lebar menceritakan mimpi-mimpi itu. Aneh. Tetapi mungkin ini adalah cara kerja psikater untuk mencari tahu tingkat kewarasan pasiennya.

“Dok, aku butuh solusi untuk masalah ini karena aku pikir hanya Dokter yang mengerti jalan pikiranku, mimpi-mimpi mengerikan itu, penampakan wajah nenek-nenek dan suara-suara aneh yang memanggilku itu. Sudah hampir satu jam dan Dokter hanya mendengar ceritaku tanpa memberikan solusi apa pun. Ayolah, Dok, setidaknya beri tahu aku apa yang harus aku lakukan.” Dahinya mengerut, sesekali mengangguk. Entah apa yang dipikirkannya. Aku sendiri bahkan bingung. Apa yang sedang kupikirkan sangat kontras dengan kata-kata yang terucap. Arah pikiranku tumpang tindih.

Menghembuskan napas dengan kasar, aku melemparkan pandangan ke jendela di belakang meja kerja Dokter. Menerobos kaca jendela yang transparan, melewati bangunan tinggi sebuah hotel bintang lima, menerawang jauh ke atas awan hitam. Sebentar lagi pasti hujan, dingin dan gelap. Memikirkan saja sudah meremang buluh badanku.

“Nona Resty, Anda dengar?”

Akh … leherku berbunyi seperti patahan kayu kering, sakit sekali. Teriakan sang dokter mengagetkan juga mengalihkan pikiran dan pandanganku dari jendela dengan tiba-tiba.

“Ada apa, Dokter? Tolong jangan mengagetkan seperti ini.” Tanpa rasa bersalah dan malu aku membentaknya. Meremas tengkuk yang ngilu ambil menggoyangkan leher dengan pelan.

“Maaf, Nona. Saya sudah memanggil berkali-kali tetapi sepertinya pikiranmu tidak ada di ruangan ini jadi saya terpaksa meninggikan suara dan tolong jangan menatap saya dengan tatapan menerkam seperti itu. Apa Anda baik-baik saja?” ia berbicara tanpa jeda, terdengar seperti manahan marah. Aku terpengaruh bahkan terpancing untuk meninggikan suara.

“Ya, aku baik-baik saja, Dok. Dan akan lebih baik lagi jika Dokter mau memberikan beberapa solusi tetapi jika tidak ada lebih baij aku pergi.” Aku hilang kontrol atas emosiku. Akhir-akhir ini memang sulit dikendalikan. Mungkin karena waktu tidurku yang semakin tidak teratur sejak masuk musim hujan. Ah, entahlah.

“Tunggu sebentar, Nona. Sebenarnya setelah mendengar ceritamu, saya ingin menanyakan beberapa hal. Tetapi cerita tentang keluargamu itu memarik dan aku pikir akan lebih baik mencari tahu latar belakang keluargamu terlebih dahulu karena aku … “

“Apa hubungan semua yang aku alami dengan latar belakang keluargaku, Dokter?” aku semakin meninggikan suara. Sangat sensitif jika berbicara tentang keluargaku. Bukan tanpa alasan tetapi aku tidak mau membahasnya. Aku lebih memilih membicarakan aib sendiri daripada tentang keluargaku.

“Saya belum selesai bicara jadi tolong jangan memotong pembicaraan jika ingin solusi dari saya, Nona Resty. Dan ingat, Anda masih calon pasien yang berkonsultasi dengan saya. Akan butuh banyak waktu untuk mendiagnosis gangguan mental yang Anda alami jadi …. “

“Jadi, maksud Dokter saya gila?” tersentak aku berdiri dan berteriak sambil memukul meja kerja Dokter Faisal di depanku. Benar-benar hilang kontrol akan akal sehatku. Aku meraih tas Zara hitamku dan beranjak pergi. “Maaf dan terima kasih atas waktu Anda, Dokter, tetapi Anda sama sekali tidak mengerti apa yang saya alami.”

Tanpa menunggu jawaban beliau, aku melangkah menuju pintu. Sebelum membuka daun pintu aku berbalik menatap jendela di belakangnya.

“Anda tahu, Dokter. Pemandangan di balik jendela Anda sungguh mengerikan. Aku benci awan hitam itu dan akhh!”

Petir menyambar disusul gemuruh guntur yang menggelegar, menganggetkan. Aku berteriak seperti orang yang kesetanan. Zara hitam di tanganku terlepas, meluncur menuju lantai. Aku kaget. Ah, bukan. Aku takut. Aku benci suasana seperti ini. Petir dan guntur memacu adrenalinku melewati batas kontrol ketakutan. Lemas dan gemetar kakiku seolah terlepas seluruh persendianku. Aku jatuh terduduk di atas pantat, memejamkan mata dan menutup telinga dengan kedua tangan.

Aku mencoba mengusir takut, menggeleng-geleng tanpa daya. Diam dan sunyi mulai menghampiri di antara hela napas memburu yang terdengar. Waktu seolah berhenti. Mencekam. Dingin merambati ujung jemari kaki, menelusuk naik ke perut,perlahan-lahan sampai ke ubun-ubun. Gemertuk gigi, menggigil seluruh tubuh. Aku memeluk lutut, mengusir dingin dan takut yang semakin nyata senyata ruangan yang menggelap.

Aku lupa semuanya. Tak ada kemarahan, di mana aku berada bahkan percakapan dengan dokter Faisal. Segalanya hilang begitu saja. Sedetik, dua detik, tiga detik dan entah sampai berapa lama aku tertinggal dalam kehampaan itu hingga satu yang tiba-tiba datang ke penciuman. Aroma menenangkan dan satu lagi yang menyusul, langkah kaki. Langkah itu semakin dekat dan berhenti di depanku membawa aroma yang semaki pekat. Aku membuka mata perlahan, mendapati sepasang pantofel hitam licin tanda selalu disemir. Mendongak perlahan, di atasnya sebuah celana bahan hitam yang disetrika rapi. Semakin ke atas aku mendapati seorang pria parubaya dengan kemeja biru kotak-kotak tersenyum hangat. Wajah teduh berjanggut pendek itu bersinar diterpa cahaya lilin kekuningan yang dipegang di atas sebuah candlestick.

Aroma menenangkan yang tercium pasti berasal dari lilin itu. Aromaterapi. Sendu kupandangi dia layaknya anak anjing di bawah meja makan tuan yang sedang makan, menyedihkan dan tanpa daya. Ia berjongkok dan menepuk lembut pundakku.

“Bangunlah, Nona Resty. Itu hanya petir dan guntur. Tidak perlu takut,” bisiknya sangat lembut.

Aku mencari kebenaran dari kata-kata itu. Ada keseriusan dan kepedulian dari tatapannya. Aku menyerah dan berdiri ditopang olehnya.

“Dokter Faisal, maaf, aku … “

“Duduklah, akan kuambilkan air untukmu.” Ia tak peduli pada ucapanku dan berlalu begitu saja. Aku melangkah kembali ke kursi yang kutinggalkan beberapa saat lalu. Dokter Faisal kembali dengan segelas air.

“Ini, minumlah.” Aku menerimanya, meneguk segelas air itu hingga tak tersisa.

“Terima kasih.”

“Mau kuambilkan lagi?”

“Sudah cukup, Dok. Terima kasih.”

“Baiklah. Bisa kita mulai, Nona Resty?”

“Mulai apa, Dok?”

“Diskusi, Nona Resty. Saya suka menyebutnya demikian. Ya, jika kamu berkenan.”

Tanpa banyak tanya lagi aku mengiyakan. Emosiku semakin stabil. Mungkin efek segelas air atau karena lilin yang beraroma menenangkan itu. Di luar petir tidak lagi menyambar dan guntur berhenti bergelora digantikan derasnya hujan. Aku tak mau memikirkannya lagi, untuk saat ini.

Tbc …

Tebusan

Genre : Horror

Bab 1. Mimpi

Aku berlari tanpa arah dalam kegelapan mencari titik cahaya yang jauh di sana. Dingin merambati pori-pori, menerobos hingga ke dalam tubuh, menyatu bersama setiap sel darah, dibawa ke jantung membuat detak tak beraturan. Aku masih berlari menjauh dari bayangan yang berteriak,

“Terkutuklah engkau! Terkutuklah engkau, Theresia anak Paul!”

***

“Res, Resty! Bangun, Nak. Resty!”

Aku terbangun dengan napas masih memburu. Sesak dan panas. Keringat basah di tubuh. Mama di hadapanku menatap bingung. Teriakan mama yang membangunkan aku dari mimpi buruk yang akhir-akhir ini menghantui. Mimpi itu kembali lagi. Aku terjaga masih dengan ketakutan dan rasa panik akan kegelapan yang membayang.

Kulempar pandangan ke sekeliling memindai ruangan sebelum kembali menatap mama yang terus membelai rambutku. Sesuatu yang sulit kupercaya tetapi bukan sekarang saatnya membahas. Untuk sekarang aku masih lega setidaknya aku masih di sini, terjaga dalam kamar sendiri. Kupandangi mama cukup lama membaca wajahnya yang bingung juga khawatir.

“Mengapa Mama ada di kamar aku?”

“Justru Mama yang harusnya tanya sama kamu, Res. Kamu mimpi apa kok sampai teriak-teriak begitu? Mama pikirnya ada maling yang masuk ke kamar kamu, loh.” Mama terlihat benar-benar khawatir, ia meraih tubuhku dan memelukku erat.

Aku tidak harus mengatakan apa-apa, cukup diam dan menikmati hangatnya pelukan mama. Di luar angin kencang menerbangkan titik-titik hujan menerpa jendela, mendesir basah, pilu, juga geram penuh dendam. Terdengar seperti geraman dalam mimpiku. Aku coba mengingat kembali mimpi-mimpi aneh dan menyeramkan yang selalu mengganggu tidur malamku selama beberapa malam ini. Mimpi yang tidak asing, selalu sama dan berakhir menggelisahkan.

Ia kembali lagi.

“Mimpi seperti apa sih, Res?” Mama membuyarkan lamunanku, kembali pada pertanyaan yang paling tidak ingin kudengar.

“Entahlah, Ma. Mimpi yang aneh tetapi aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.” Aku sengaja tidak mau memperpanjang pertanyaan mama. Tidak untuk saat ini dan entah untuk nanti. Mama merapikan rambutku, menyeka lagi keringat yang masih mengalir di kening. “Sudah jam berapa, Ma? Kenapa belum tidur?” Aku sengaja mengalihkan pertanyaan sembari melepaskan diri dari pelukkannya. Mama masih menatap penuh selidik.

“Sudah jam sebelas tapi karena Papa belum pulang makanya Mama masih menunggu.” aku menyibak selimut. “Perusahan tempat Papa kerja sudah buka cabang di daerah jadi sekarang Papa sering telat pulang.” Aku mendengus, tidak peduli kemajuan apa yang sudah dialami papa. Berbicara tentangnya hanya akan semakin merusak suasana hatiku.

Beranjak dari tempat tidur aku menuju dapur, mama diam-diam mengekori. Aku butuh air. Di luar hujan belum menandakan akan reda dan sesekali cahaya langit membias di jendela disusul gemuruh guntur yang menggetarkan tirai jendela. Hujan akhir November kali ini benar-benar meneror ketenanganku. Lagi dan lagi, seperti yang sudah-sudah. Aku benci musim hujan.

Di depan meja makan aku menuangkan segelas air, meneguk separuh dan kembali ke kamar membawa gelas yang masih separuh. Kupijaki satu per satu anak tangga tetapi pikiran menerawang jauh, jauh ke tempat yang bahkan tidak kukenal. Gambaran tempat-tempat yang muncul dalam mimpi simpang siur. Kelabu dan dingin. Mama yang menyandar pada tangga kuabaikan begitu saja. Langkah demi langkah, satu per satu anak tangga kulalui mengikuti kehendak kaki hingga tanpa kesadaran penuh aku telah berdiri di depan jendela kamar. Aku menegak seteguk air sambil menyibak tirai merah marun yang tipis. Titik-titik cahaya dari rumah tetangga terlihat menari di antara hujan yang mengguyur, redup dan bergetar. Titik-titik air mengembun di balik jendela, tampak seperti garis-garis mengerikan ketika terpapar cayaha petir.

Sambil mengamati garis-garis air itu, aku terus mencoba mengingat kepingan-kepingan mimpi buruk itu. Tidak ada yang jelas, semua sangat abstrak seperti biasanya. Di langit petir dan guntur berlomba-lomba menguasai malam. Menakutkan.

Theresia ….”

Siapa itu? Aku berbalik mencari siapa yang memanggil. Mungkin mama tetapi tidak ada siapa pun yang berbisik serak seperti itu. Aku kembali menatap jendela dan …

Prank!

Gelas di tanganku meluncur begitu saja beradu dengan lantai, pecah berkeping-keping. Sistem sarafku berekasi cepat, memompa jantung berdetak sangat cepat dan kuat. Suara tak … tak … tak … dari balik dadaku bahkan mengalahkan gemuruh guntur di langit. Aku mundur, sendi lutut semakin lemah menopang, tumpuan kaki mulai goyah tetapi tidak pandanganku. Aku masih menatapnya. Waktu seakan berhenti, kegelapan mulai mengisap duniaku.

Di sana, di permukaan jendela kaca yang gelap dan datar, bayangan sesosok wajah tergambar jelas, melayang bagai gambar tiga dimensi. Gambar wajah seorang wanita tua. Mata sehitam tinta seperti dua lubang kegelapan, mulut lebar sehitam arang menyeringai menampakkan gigi-gigi hitam tak beraturan, menyeringai menebarkan aroma paling busuk. Mengerikan.

Theresia anak Paul.”

Ia memanggilku lagi. Serak dan berat menggema di dalam kamar. Terdengar seolah ia memanggilku dari kejauhan yang sangat jauh namun di saat yang sama terasa sangat dekat di belakang telinga.

Dengan sedikit kesadaran yang tersisa, aku melawan rasa takut dan memanggil mama. Namun tercekik oleh rasa takut yang jauh lebih besar dan bau busuk yang menyergap, tak ada satu kata pun yang terucap. Langkah mundurku semakin berat seakan dibebani lima puluh kilogram beras. Perlahan lututku bertekuk dan jatuh terduduk di atas pantat. Kedua tangan terkulai lemas, seluruh energi terisap habis. Dingin membungkus tubuh yang sudah tak berdaya. Ia masih di sana mengambang di udara, menggemakan tawa memekakkan. Tubuh dan mataku dikuncinya hingga tak sanggup beralih sedetik pun darinya.

Saya tunggu kau pulang.”

“Resty! Apa yang kamu lakukan di bawah sini? Lihat Mama, Sayang. Apa yang terjadi? Ya ampun, Res, tangan kamu berdarah kena beling. Res, Resty! Lihat Mama!” bentakan mama mengusir suara yang bergaung di pendengaranku seiring hilangnya gambar itu.

Mama menepuk-nepuk lembut wajahku dan mengusap bahuku sambil terus mengoceh. Tubuhku belum seutuhnya pulih, masih gemetar dan dingin meski berkeringat. Aku masih tarpaku pada kaca hitam itu, mama menyadarinya, bangun dan menarik tirai menutupi jendela. Ia menatapku aneh lalu beralih ke lantai yang basah dan penuh pecahan gelas. Ia merangkul tubuh lemahku dan membantuku ke ranjang.

Aku duduk di tepi ranjang, hati-hati mencabuti sekeping gelas yang entah kapan menusuk telapak tanganku. Darah menetes perlahan menuju lantai, mengukir noda merah yang kontras dengan keramik putih. Aku menghitung tiap tetes yang jatuh. Tujuh. Angka ganjil yang keramat. Aku bergidik, ngeri pada kebetulan itu.

Sebuah tangan menarik tanganku yang terluka itu, melihat sejenak dan membersihkannya. Mama entah sejak kapan keluar dari kamarku dan kembali membawa kotak P3K. Aku bahkan tidak menyadari gerakan manusia nyata di sekitarku.

Tanpa banyak tanya, mama membersihkan lukaku dengan alkohol, mengolesi obat merah dan membalutnya dengan kasa. Cepat sekali. Isi kotak kembali dibenahi lalu menidurkan aku. Mama mengecup keningku sangat lama. Sesuatu yang sangat tidak biasa bahkan baru bagiku.

“Tidurlah, Res. Jangan lupa berdoa. Harus terus minta perlindungan pada Tuhan. Yang ini, biar mama yang membereskan.”

Dari tempat tidur aku melihat bagaimana seorang mama yang biasanya sangat acuh membereskan segala yang kacau. Ya, mungkin hanya malam ini aku melihatnya demikian. Ia keluar sambil tersenyum hangat, hal yang selalu kutunggu.

Sebelum terpejam, aku berdoa. Berharap tidak ada lagi mimpi buruk yang menghantui tidur malamku. Semoga!

Tbc ….